Kamis, 19 Maret 2015

Selembar Kertas, Merekat pada tumpukan Buku, Di Depan Pintu

Untukmu, diumurmu Tiga Tahun Lalu.

Dear Adik, Aku memberimu beberapa Buku.

Bacalah buku itu Dik, Aku menghadiahimu Dengannnya, agar dalam watakmu yang keras, masuk makna, atau setidaknya cerita, tentang hidup, tentang orang lain, tentang kehidupan diluar hidupmu yang engkau keluhkan terlalu sering.

Bacalah buku itu Dik, jika tidak engkau merasakan sedikitpun barang jarum pentul untuk memecahkan selubung ego mu, bacalah ia sekali lagi, jika tidak pula ada kau rasa tertusuk, bacalah buku selanjutnya, sengaja aku menghabiskan uang untuk memberimu banyak-banyak makna dari karya mereka yang lebih dahulu mengecap bijaksana hidup.

Kelak, Ketika suatu saat, engkau mendapati Saat dalam jalan hidupmu, yang menyentakmu pada kesadaran yang bijak, tentang caramu menjalani hidup yang menurutku keliru, tentang sikapmu yang menurutku belum tepat, maka carilah aku. Ceritakan bagaimana Kejadian itu menggiringmu pada detik kesadaran, pada detik cahaya, setelah gelap yang menurutku sengaja kau masuki.

Atau, jika kelak aku sadar aku yang keliru, lalu aku punya keberanian menemuimu, sekedar mengatakan Kau benar dan aku salah. Meski rindu atau malu, Kenyataan itu akan tetap kukatakan.

Jikalau, Waktu tidak merestui pencarianku padamu, atau pencarianmu padaku, Tulislah Hidupmu pada suatu karya, Lagu, Lukisan atau apalah namanya, Agar suatu saat, dapat aku menemukan kisahmu yang aku tunggu dari dulu. Atau, pun tidak kutemukan lanjutan kisahmu, Anak adam lain yang menikmati karyamu itu akan mendapatkan makna yang sama seperti yang engkau rasakan. Bukankah indah dik ?.

Andailah kita tidak terpisah jarak dan waktu, aku dengan senang hati meminjamkan padamu buku-bukuku, lalu ikut larut bersamamu tenggelam membacanya, atau membahasnya kembali. Tak melulu Kisah Roman, Bukankah Kau suka sejarah para pendahulu ? Ah, Hebat kamu. Seumuranmu jarang yang suka sejarah. Akupun jadi tertarik sebenarnya karena cerita-ceritamu.

Dan Eh ?, Salam dengan Keponakanmu yang lucu itu ? Siapa namanya ? Aku turutkan Sejilid juga untuknya, agar tumbuh dengan kebiasaan membaca, seperti katamu, keinginanmu.

Semoga hadiah ini tersampaikan, makna dan maksudnya. Sedang akhirnya ? Kita sepakat, Waktu adalah lembaran dimana namamu, namaku, dan kisah kita adalah kata-kata yang dituliskan didalamnya dengan Indah Oleh Sang Maha, Tak perlu kau ragukan bagaimana akan diakhirkan. Tak akan tercela Cerita yang ditulis Oleh-Nya kan ? Jalanilah sesuai arahanNya, dan Saat Sebuah Makna akhirnya menyentuh Hati Kita berdua, memperbaiki cara hidup kita, mengembalikan tujuan kita, Berakhirlah Sudah Dik, Dalam Bahagia. Tentu Saja, Dalam Bahagia.

Dariku, di Umurku yang Sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar